Sunday, June 10, 2018

Diskusi Singkat Tentang NKRI


Perbedaan adalah kunci kuat persatuan. Dimana perbedaan menjadikan setiap rakyat bangsa untuk saling mengerti dan memahami keadaan, yang suatu saat bisa mengingatkan kita pada arti sebuah kehidupan.

Tak banyak yang mengerti, perbedaan ada semata – mata untuk menguatkan hati dan diri supaya kita tetap menghargai dan mensyukuri apa yang Tuhan beri. Lalu tidak menggunakan perbedaan untuk di hakimi sendiri ataupun alasan suatu masalah terjadi.

Namun, kenyataannya perbedaan seringkali menjadi perpecahan yang berujung kehancuran. Sebagian dari mereka mengatakan jika perbedaan itu harus dibasmi dan menyetarakan apa yang nyata dijalani.

Bahkan, mereka ingin satu kesamaan diantara mereka menyatu menjadi paling nomer satu dan tak lagi mengenal perbedaan sebagai kunci penyatu. Mereka seolah – olah selalu menunjukkan dirinya benar, paling kuat, dan tak jarang memiliki niatan hati yang tidak mau kalah pada siapapun itu.

Aku ingat, waktu itu berita dihebohkan kasus pemberontakan antarsuku hanya karena suatu perbedaan yang seharusnya wajar terjadi. Saat itu permusuhan seakan – akan bergejolak tinggi dan perpecahan sering terjadi yang mengancam persatuan NKRI. Pelaku pun dengan lihai mempermainkan kasus yang menjerat dirinya, bahkan polisi dan TNI terkadang kewalahan dengan jumlah mereka yang menjalar ke seluruh penjuru Negeri.

Tak berheti sampai disitu, kasus lain tentang tentang masalah kepercayaan agama setiap orang yang menuai banyak kontrovensi. Memang, kepercayaan agama itu hakikatnya kuat pada setiap hati manusia yang memiliki.

Dimana kepercayaan agama selalu mencirikan perbedaan karena hati manusia tak mungkin sama dalam hal menyangkut keimanan. Kadang, perbedaan inilah yang menimbulkan perkataan bahwa setiap agama tidak dapat rukun dalam keseharian.

Tak jarang, sering terdapat oknum – oknum yang mungkin dalam pikir mereka membela agamanya tapi dalam kenyataan justru menginginkan posisi paling tinggi, sementara menganggap yang lain rendah dan alhasil pertengkaran selalu menjadi jalan setiap pikiran. Sayangnya, mereka terlalu egois sampai lupa bangsa mereka sendiri terancam keutuhannya hanya karena suatu perbedaan yang dipertetangkan.  

Dari sedikit kasus di atas, terkadang kita lupa mempelajari masalah kecil yang ada pada negara ini dan cenderung selalu memikirkan langkah untuk maju. Padahal jika dipikir, untuk apa suatu negara maju jika rakyatnya sendiri masih ingin memecah belah persatuan dengan berbagai macam perilaku.

Konteks disini bukan berarti menolak kemajuan negara, tapi hanya saja kita perlu mengerti masalah kecil yang juga dapat berdampak besar dan seharusnya mendapat perhatian dari semua golongan dengan sikap solidaritas. Ibarat kamu membangun sebuah menara, padahal disitu kamu tau kalau ada bagian bawah menara yang rusak, tapi kamu malah membiarkannya hanya karena ingin cepat mencapai puncak paling atas.

Bukankah begitu pemikiran orang jaman sekarang? Mengesampingkan masalah kecil, seakan – akan semua sudah ada yang mengurusi. Padahal justru bantuan tangan dari rakyat sangat dibutuhkan agar masalah teratasi. Jangan selalu beranggapan segala bentuk masalah kecil sudah ada yang menangani, lalu kita acuh saja seolah – olah menjadi rakyat biasa yang tak pernah tau dan mengerti seperti apa keadaan bangsa ini.

Saya herannya lagi, pada mereka yang terlalu sibuk menilai pemerintahan atas dasar apa yang menjadi tolak keinginan rakyat untuk mendapatkan kehidupan makmur tak juga bisa dirasakan sampai kini. Tak jarang muncul hinaan dan cenderung menyalahkan sejumlah pejabat karena dirasa kurang mewujudkan janji.

Padahal mereka tak tau menjadi pejabat itu tidak mudah seperti apa yang orang pahami. Coba saja kamu di posisi pejabat saat ini. Apakah kamu mampu dengan sekejap mewujudkan negara yang maju, makmur, sejahtera, rukun, ataupun damai? Tidak. Bahkan sebuah biji butuh waktu bertahun – tahun untuk berkembang menjadi pohon besar dan tinggi.

Bukan tidak mungkin kita tak dapat mewujudkan negara yang sesuai dengan tujuan, lalu menunggu sampai bertahun – tahun untuk bisa terwujud. Kadang, seseorang tak perlu menghancurkan apa yang sudah dirawat sejak awal agar sesuatu yang diinginkan terwujud.

Karena, kita juga perlu sadar bahwasannya dulu kita hanyalah sebuah bangsa yang seringkali dijajah. Lalu menjadi negara bersatu atas jerih payah dan pengorbanan para pahlawan yang gagah.

Ayolah sama – sama kita mewujudkan Bangsa Indonesia ini dengan rakyatnya yang tak hanya berfikir untuk maju tetapi juga bisa menjaga keutuhan yang memang sudah menjadi tujuan awal negara dirikan. Tak perlu saling menyalahkan.

Tidak ada yang benar – benar salah pada suatu bangsa, yang ada hanya mereka yang kurang peduli dan selalu ingin mencari kepuasan diri. Butuh kekuatan persatuan untuk bisa mewujudkan bangsa yang selaras dengan tujuan, tentunya dengan kesadaran warga negara itu sendiri.

Saling gotong – royong bersama mewujudkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang diinginkan masyarakat dahulu, kini, maupun nanti. Ibarat suatu menara tadi, tak mungkin dibangun oleh tangan arsitektur itu sendiri. Tapi membutuhkan beberapa orang yang membantunya mewujudkan sampai puncak teratas menara lalu dengan fokus pada rancangan yang telah disepakati.

Seperti halnya bangsa kita. Perlu adanya kerjasama antar semua rakyat bangsa. Yang tua jangan selalu menyalahkan dan memaki yang muda karena terkadang mereka tak perlu dimarahi untuk suatu aksi anarki. Tetapi mengajarinya berperilaku baik sesuai dengan ciri khas bangsa kita ini.

Lalu yang muda jangan selalu menyalahkan yang tua hanya karena mereka terkadang payah dalam mengurusi pemerintahan, tetapi kalian sendirilah yang seharusnya belajar dari kesalahan itu lalu berusaha memperbaiki masa depan nanti menjadi lebih baik lagi. Karena, pada hakikatnya kemerdekaan lahir atas perjuangan para orang tua untuk anak cucu mereka saat ini maupun hari nanti.

Kemudian tentang suku dan agama yang beragam di negeri ini. Jangan beraggapan bahwa perbedaan menjadi sebuah kehancuran tersendiri. Tapi justru hal tersebut agar kita dapat memahami dan saling mengerti.

Andaikan suatu negara hanya dihuni oleh satu suku dan satu agama, tentunya terasa membosankan. Berbeda dengan negara dengan beragam suku, kita dapat mendapat banyak pengetahuan karena ternyata dengan mudahnya mengetahui bahkan mempelajari adat masing – masing yang menarik untuk dijelajahi.

Ingin sekali suatu hari nanti, yang tua bisa menularkan hal yang baik pada yang muda. Yang muda menghormati dan menghargai yang tua. Lalu seluruh suku dan agama bersatu dengan semangat, mengibarkan bendera merah putih pada suatu perkumpulan tanpa memandang perbedaan yang ada.

Dan satu poin terakhir tentang konteks ini adalah fokus pada tujuan. Masih sama seperti menara tadi, untuk dapat membangun puncak paling tinggi perlu fokus pada suatu rancangan. Sama halnya dengan negara kita agar menjadi negara yang hebat itu dengan tetap melangkah dan fokus pada tujuan awal dibentuk kemerdekaan.

Karena pada hakikatnya, masalah yang ada pada suatu negara hanya untuk menguatkan. Agar suatu saat nanti kita bisa bangkit dari keterpurukan dan menjadikannya hikmah dan pelajaran. Lalu, dapat mengenang bangsa Indonesia ini sebagai bangsa yang selalu kita jungjung tinggi dan hormati dalam keseharian.

Kini dan nanti....

Harap memahami.
Sebelum mengomentari
“Berhentilah menjadi kapal tanpa seorang nahkoda. Apalagi tanpa arah tujuan yang jelas. Kita dihidupkan untuk suatu tujuan yang besar. Bukan lagi sesuatu hal yang  menyesatkan".
 

No comments:

Post a Comment