Perbedaan adalah kunci kuat persatuan. Dimana perbedaan
menjadikan setiap rakyat bangsa untuk saling mengerti dan memahami
keadaan, yang suatu saat bisa mengingatkan kita pada arti sebuah kehidupan.
Tak banyak yang mengerti, perbedaan ada semata – mata untuk menguatkan hati dan diri supaya kita tetap menghargai dan mensyukuri apa yang Tuhan beri. Lalu tidak menggunakan perbedaan untuk di hakimi sendiri ataupun alasan suatu masalah terjadi.
Namun, kenyataannya perbedaan seringkali menjadi perpecahan
yang berujung kehancuran. Sebagian dari mereka mengatakan jika perbedaan itu
harus dibasmi dan menyetarakan apa yang nyata dijalani.
Bahkan, mereka ingin satu kesamaan diantara mereka menyatu menjadi paling nomer satu dan tak lagi mengenal perbedaan sebagai kunci penyatu. Mereka seolah – olah selalu menunjukkan dirinya benar, paling kuat, dan tak jarang memiliki niatan hati yang tidak mau kalah pada siapapun itu.
Aku ingat, waktu itu berita dihebohkan kasus pemberontakan
antarsuku hanya karena suatu perbedaan yang seharusnya wajar terjadi. Saat itu
permusuhan seakan – akan bergejolak tinggi dan perpecahan sering terjadi yang
mengancam persatuan NKRI. Pelaku pun dengan lihai mempermainkan kasus yang
menjerat dirinya, bahkan polisi dan TNI terkadang kewalahan dengan jumlah
mereka yang menjalar ke seluruh penjuru Negeri.
Tak berheti sampai disitu, kasus lain tentang tentang
masalah kepercayaan agama setiap orang yang menuai banyak kontrovensi. Memang,
kepercayaan agama itu hakikatnya kuat pada setiap hati manusia yang memiliki.
Dimana kepercayaan agama selalu mencirikan perbedaan karena
hati manusia tak mungkin sama dalam hal menyangkut keimanan. Kadang, perbedaan
inilah yang menimbulkan perkataan bahwa setiap agama tidak dapat rukun dalam
keseharian.
Tak jarang, sering terdapat oknum – oknum yang mungkin dalam
pikir mereka membela agamanya tapi dalam kenyataan justru menginginkan posisi
paling tinggi, sementara menganggap yang lain rendah dan alhasil pertengkaran
selalu menjadi jalan setiap pikiran. Sayangnya, mereka terlalu egois sampai
lupa bangsa mereka sendiri terancam keutuhannya hanya karena suatu perbedaan
yang dipertetangkan.
Dari sedikit kasus di atas, terkadang kita lupa mempelajari
masalah kecil yang ada pada negara ini dan cenderung selalu memikirkan langkah
untuk maju. Padahal jika dipikir, untuk apa suatu negara maju jika rakyatnya
sendiri masih ingin memecah belah persatuan dengan berbagai macam perilaku.
Konteks disini bukan berarti menolak kemajuan negara, tapi
hanya saja kita perlu mengerti masalah kecil yang juga dapat berdampak besar
dan seharusnya mendapat perhatian dari semua golongan dengan sikap solidaritas.
Ibarat kamu membangun sebuah menara, padahal disitu kamu tau kalau ada bagian
bawah menara yang rusak, tapi kamu malah membiarkannya hanya karena ingin cepat
mencapai puncak paling atas.
Bukankah begitu pemikiran orang jaman sekarang?
Mengesampingkan masalah kecil, seakan – akan semua sudah ada yang mengurusi.
Padahal justru bantuan tangan dari rakyat sangat dibutuhkan agar masalah
teratasi. Jangan selalu beranggapan segala bentuk masalah kecil sudah ada yang
menangani, lalu kita acuh saja seolah – olah menjadi rakyat biasa yang tak
pernah tau dan mengerti seperti apa keadaan bangsa ini.
Saya herannya lagi, pada mereka yang terlalu sibuk menilai
pemerintahan atas dasar apa yang menjadi tolak keinginan rakyat untuk mendapatkan
kehidupan makmur tak juga bisa dirasakan sampai kini. Tak jarang muncul hinaan
dan cenderung menyalahkan sejumlah pejabat karena dirasa kurang mewujudkan
janji.
Padahal mereka tak tau menjadi pejabat itu tidak mudah
seperti apa yang orang pahami. Coba saja kamu di posisi pejabat saat ini. Apakah
kamu mampu dengan sekejap mewujudkan negara yang maju, makmur, sejahtera,
rukun, ataupun damai? Tidak. Bahkan sebuah biji butuh waktu bertahun – tahun
untuk berkembang menjadi pohon besar dan tinggi.
Bukan tidak mungkin kita tak dapat mewujudkan negara yang
sesuai dengan tujuan, lalu menunggu sampai bertahun – tahun untuk bisa
terwujud. Kadang, seseorang tak perlu menghancurkan apa yang sudah dirawat
sejak awal agar sesuatu yang diinginkan terwujud.
Karena, kita juga perlu sadar bahwasannya dulu kita hanyalah sebuah bangsa yang seringkali dijajah. Lalu menjadi negara bersatu atas jerih payah dan pengorbanan para pahlawan yang gagah.
Karena, kita juga perlu sadar bahwasannya dulu kita hanyalah sebuah bangsa yang seringkali dijajah. Lalu menjadi negara bersatu atas jerih payah dan pengorbanan para pahlawan yang gagah.
Ayolah sama – sama kita mewujudkan Bangsa Indonesia ini
dengan rakyatnya yang tak hanya berfikir untuk maju tetapi juga bisa menjaga
keutuhan yang memang sudah menjadi tujuan awal negara dirikan. Tak perlu saling
menyalahkan.
Tidak ada yang benar – benar salah pada suatu bangsa, yang
ada hanya mereka yang kurang peduli dan selalu ingin mencari kepuasan diri.
Butuh kekuatan persatuan untuk bisa mewujudkan bangsa yang selaras dengan
tujuan, tentunya dengan kesadaran warga negara itu sendiri.
Saling gotong – royong bersama mewujudkan bangsa Indonesia
menjadi bangsa yang diinginkan masyarakat dahulu, kini, maupun nanti. Ibarat
suatu menara tadi, tak mungkin dibangun oleh tangan arsitektur itu sendiri.
Tapi membutuhkan beberapa orang yang membantunya mewujudkan sampai puncak
teratas menara lalu dengan fokus pada rancangan yang telah disepakati.
Seperti halnya bangsa kita. Perlu adanya kerjasama antar
semua rakyat bangsa. Yang tua jangan selalu menyalahkan dan memaki yang muda karena
terkadang mereka tak perlu dimarahi untuk suatu aksi anarki. Tetapi
mengajarinya berperilaku baik sesuai dengan ciri khas bangsa kita ini.
Lalu yang muda jangan selalu menyalahkan yang tua hanya karena
mereka terkadang payah dalam mengurusi pemerintahan, tetapi kalian sendirilah
yang seharusnya belajar dari kesalahan itu lalu berusaha memperbaiki masa depan
nanti menjadi lebih baik lagi. Karena, pada hakikatnya kemerdekaan lahir atas
perjuangan para orang tua untuk anak cucu mereka saat ini maupun hari nanti.
Kemudian tentang suku dan agama yang beragam di negeri ini.
Jangan beraggapan bahwa perbedaan menjadi sebuah kehancuran tersendiri. Tapi
justru hal tersebut agar kita dapat memahami dan saling mengerti.
Andaikan suatu negara hanya dihuni oleh satu suku dan satu
agama, tentunya terasa membosankan. Berbeda dengan negara dengan beragam suku,
kita dapat mendapat banyak pengetahuan karena ternyata dengan mudahnya
mengetahui bahkan mempelajari adat masing – masing yang menarik untuk dijelajahi.
Ingin sekali suatu hari nanti, yang tua bisa menularkan hal yang
baik pada yang muda. Yang muda menghormati dan menghargai yang tua. Lalu
seluruh suku dan agama bersatu dengan semangat, mengibarkan bendera merah putih
pada suatu perkumpulan tanpa memandang perbedaan yang ada.
Dan satu poin terakhir tentang konteks ini adalah fokus pada
tujuan. Masih sama seperti menara tadi, untuk dapat membangun puncak paling
tinggi perlu fokus pada suatu rancangan. Sama halnya dengan negara kita agar
menjadi negara yang hebat itu dengan tetap melangkah dan fokus pada tujuan awal
dibentuk kemerdekaan.
Karena pada hakikatnya, masalah yang ada pada suatu negara
hanya untuk menguatkan. Agar suatu saat nanti kita bisa bangkit dari
keterpurukan dan menjadikannya hikmah dan pelajaran. Lalu, dapat mengenang
bangsa Indonesia ini sebagai bangsa yang selalu kita jungjung tinggi dan hormati
dalam keseharian.
Kini dan nanti....
Harap memahami.
Sebelum mengomentari
“Berhentilah menjadi kapal tanpa seorang nahkoda. Apalagi tanpa arah tujuan yang jelas. Kita dihidupkan untuk suatu tujuan yang besar. Bukan lagi sesuatu hal yang menyesatkan".

No comments:
Post a Comment