Ku duduk termenung di tepi muara
Sesekali merasakan hembusan angin
yang menyeruak tanpa jeda
Lalu menikmati kabut jingga penuh
pesona di batas cakrawala
Membawa kenangan kita satu – persatu
yang lenyap tanpa tersisa
Aku ingat, dulu kita sering mengadu
pada senja berdua
Berbagi tawa dan bahagia bersama
Membiarkan lelah tumpah pada dekapan
cinta
Lalu saling menepi rindu yang
mengangkasa
Membuatku merasakan hati kita telah
utuh menyatu
Hingga aku menjadikanmu beribu –
ribu alasan senyum indahku
Merajut setiap benih cinta dalam
kalbu
Lalu dengan rakus meringkus seluruh
hatiku tanpa sedikitpun meragu
Sampai akhirnya aku tertelungkup
sadar yang mengakar
Hatinya seolah – olah ingin
menghindar
Meninggalku kasar tanpa sebuah kabar
Membuat hatiku rasanya mati
tertampar
Dan sekarang aku menetap disini
sendiri
Menikmati kenangan berbalut tangis
begitu tragis
Berkecamuk pada keinginan yang
menyuruhnya kembali
Meski kini aku hanya bisa menjadikanmu
alasan setiap bait rindu tertulis
Karena menulis adalah caraku
menangis
Senja adalah ukiran kenangan yang
simbolis
Bait kata adalah untaian rasa penuh
luka
Dan rindu adalah air matanya
Waktu pun berlalu
Hingga takdir menyadarkanku
Kita tak kan pernah bisa menyatu
Meski seperti apapun jalan yang kan kita
tuju
Tapi percayalah, aku akan selalu
mengingatmu dalam senja dan tentang sebuah tulisan
Terimakasih telah menjadikanku
wanita kuat akan tantangan kehidupan
Terimakasih karena pernah
menjadikanku wanita teramat istimewa
Walau akhirnya kuiklaskan kau
bahagia dengannya
Atas
nama aksara senja
Kutitipkan
satu nama rindu di langit yang berbeda

No comments:
Post a Comment