Sunday, June 24, 2018

Aksara Senja





Ku duduk termenung di tepi muara

Sesekali merasakan hembusan angin yang menyeruak tanpa jeda

Lalu menikmati kabut jingga penuh pesona di batas cakrawala

Membawa kenangan kita satu – persatu yang lenyap tanpa tersisa



Aku ingat, dulu kita sering mengadu pada senja berdua

Berbagi tawa dan bahagia bersama

Membiarkan lelah tumpah pada dekapan cinta

Lalu saling menepi rindu yang mengangkasa



Membuatku merasakan hati kita telah utuh menyatu

Hingga aku menjadikanmu beribu – ribu alasan senyum indahku

Merajut setiap benih cinta dalam kalbu

Lalu dengan rakus meringkus seluruh hatiku tanpa sedikitpun meragu



Sampai akhirnya aku tertelungkup sadar yang mengakar

Hatinya seolah – olah ingin menghindar

Meninggalku kasar tanpa sebuah kabar

Membuat hatiku rasanya mati tertampar



Dan sekarang aku menetap disini sendiri

Menikmati kenangan berbalut tangis begitu tragis

Berkecamuk pada keinginan yang menyuruhnya kembali

Meski kini aku hanya bisa menjadikanmu alasan setiap bait rindu tertulis



Karena menulis adalah caraku menangis

Senja adalah ukiran kenangan yang simbolis

Bait kata adalah untaian rasa penuh luka

Dan rindu adalah air matanya



Waktu pun berlalu

Hingga takdir menyadarkanku  

Kita tak kan pernah bisa menyatu

Meski seperti apapun jalan yang kan kita tuju



Tapi percayalah, aku akan selalu mengingatmu dalam senja dan tentang sebuah tulisan

Terimakasih telah menjadikanku wanita kuat akan tantangan kehidupan

Terimakasih karena pernah menjadikanku wanita teramat istimewa

Walau akhirnya kuiklaskan kau bahagia dengannya

                       

                                                             
Atas nama aksara senja

Kutitipkan satu nama rindu di langit yang berbeda





No comments:

Post a Comment