Friday, March 19, 2021

 

Pengajaran Sastra Mendukung Siswa Berkarya



            Memasuki dunia pendidikan saat ini, kita mungkin tidak akan lepas dari dunia kesustraan. Dalam lingkup kehidupan, memang sastra telah diajarkan kepada kita sejak dini. Meski, dalam pengajaran sastra saat masih dini belum mencangkup keseluruhan tetapi lambat laun akan berkembang tanpa kita sadari sekalipun. Karena sastra itu penting, itulah mengapa kita sejak dini harus diajarkan tentang dunia sastra. Menurut Semi (1988 : 8) menyebutkan bahwa sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya manusia dan menggunakan bahasa sebagai medium tersendiri. Berdasarkan pengertian tersebut, kita bisa tau bahwasannya sastra juga memiliki elemen – elemen pendukung yang sering terdapat dalam pengajaran sastra yaitu membaca sastra. Menurut KBBI, membaca adalah melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis dengan melisankan atau hanya dilihat dari dalam hati.

Membaca sastra sering dikatakan sebagai metode paling bagus dalam meningkatkan pengajaran sastra khususnya para siswa sekolah. Mengingat dalam perkembangan pengetahuan siswa, mereka juga perlu membaca untuk menjadi lebih kaya akan ilmu. Membaca itu membuat kita tau tentang segala sesuatu dan memiliki pengetahuan luas. Membaca juga meningkatkan kemampuan kita memahami segala hal dalam bidang apapun termasuk kehidupan sosial. Lewat pernyataan Direktur Eksekutif LSI, Denny JA mengatakan jika pembaca sastra cenderung terlibat dalam kelompok sosial sebesar 65,7 persen dan kelompok tidak membaca sastra mencapai 48,5 persen saja. Sedangkan, beberapa pembaca sastra yang berdema untuk lingkungan mencapai 86,5 persen lebih banyak dibanding mereka yang tidak membaca sastra hanya sekitar 67,7 persen. Dari pernyataan singkat itu kita dapat melihat seberapa pentingnya membaca dalam mendukung proses pembelajaran siswa sekolah. Meski banyak dari beberapa mereka tidak paham betul dan cenderung melupakan metode membaca sastra yang justru menjadi pendukung pembentukan karakter pada siswa.

Dalam lingkup pengajaran sastra, membaca dimulai dari kelas paling bawah dengan menggunakan media buku seperti dongeng, cerita rakyat, majalah anak – anak dan sebagainya. Pengajar sastra kebanyakan juga menekuni untuk menuntun siswa perlahan – lahan memahami cerita agar proses membaca berjalan mengasyikkan. Meski tehnologi jaman sekarang sudah berkembang pesat tetap saja dalam pengajaran sastra, buku termasuk hal yang paling penting untuk tidak dilupakan. Hanya saja beberapa pengajar memilih jalan modernisasi dengan alasan siswa lebih tertarik dan tidak bosan serta untuk meningkatkan daya baca pada anak. Hal ini juga tidak disalahkan, tetapi kita juga perlu menjadikan tehnologi modern sebagai pendamping pembelajaran dengan membiasakan siswa mencari ilmu dari buku lalu menggunakan bantuan internet setelah tidak dapat menemukan di buku.

Dalam pernyataan sebuah studi yang dilakukan lembaga PBB untuk anak – anak, UNICEF, bersama para mitra termasuk Kementerian Komunikasi dan Informatika dan Universitas Harvard Amerika Serikat menelusuri aktivitas online dari sampel anak dan remaja menghasilkan sebanyak 98 mengaku tahu internet dan 79,5 persen diantaranya adalah pengguna internet. Namun, pengajar juga memiliki peran untuk meningkatkan keminatan siswa pada buku melalui berbagai hal walaupun kebanyakan menolak dan memilih internet yang dirasa lebih menarik. Tapi lambat laun lewat adanya membaca buku akan menyadarkan seberapa pentingnya sastra bagi kehidupan anak – anak nantinya. Menurut saya, hal itu juga termasuk jalan paling bijak yang diambil dalam mengajarkan sastra bagi siswa.

 Pernyataan penting di atas, secara tidak langsung menjuru pada sistem pengajaran sastra dengan metode membaca untuk dapat meningkatkan daya imajinasi siswa yang kemudian bisa mendukung dalam berkarya. Menurut Key Pugh, PhD, presiden dan direktur penelitian Haskins Laboratories kepala majalah Oprah mengungkapkan bahwa membaca dibanding menonton tv atau mendengarkan radio memiliki pelatihan yang berbeda. Bagian otak ketika membaca telah mengembangkan fungsi seperti kemampuan imajinasi, bahasa dan pembelajaran asosiatif yang terhubung pada sirkuit saraf tertentu. Dimana kita bisa menggunakan imajinasi tersebut untuk memulai berkarya. Lihat saja mereka yang menjelajahi dunia imajinasi bisa menampilkan karya yang sungguh menakjubkan. Sebagai contoh misalnya seorang tokoh terkenal, Albert Einsten. Kisah nyata ini dengan imajinasinya bisa membuat rumus yang mampu meluluh lantakan bagian dari negara Jepang. Sampai seorang Albert Einsten mengatakan bahwa “imagination is more important than the knowledge”.

Jadi, memang membaca sastra ini memiliki peran penting karena selain mendukung sistem pengajaran sastra tetapi memiliki segi manfaat yang hebat bagi siswa. Membaca itu mudah, praktis, dan bisa kapanpun. Hanya diperlukan kemauan dalam diri kita untuk tergerak dalam membaca. Mereka yang membaca bisa berimajinasi membuat karya yang cerdas. Mereka yang membaca bisa menulis lalu menciptakan tulisan inspiratif. Mereka yang membaca bisa menjelajahi dunia dengan kemampuan bicara begitu handal. Semua dimulai hanya dengan hal sederhana yaitu mengenal sastra lewat membaca. Itulah mengapa pengajaran sastra perlu ditekankan pada kehidupan siswa untuk mendukung perkembangannya menjadi seseorang yang hebat di masa depan. Ini hanya sedikit pernyataan tentang pengajaran sastra lewat membaca, kalau kalian mendalam lagi akan banyak manfaat yang ditemukan dari pengajaran sastra tersendiri.

Sayangnya, tak semua orang menyukai dunia sastra. Dalam pengajaran sastra memang terdapat banyak kendala karena beberapa diantaranya memilih tidak peduli dan cenderung meremehkan pada hal tersebut. Untuk pembaca sastra saja menurun jumlah peminatnya di Indonesia. Menurut UNESCO, mengatakan bahwa minat baca anak Indonesia hanya 0,01 persen. Dimana penjabaraannya dari 10. 000 ribu anak bangsa, hanya satu orang yang senang membaca. Data lain dari sebuah survei yang dilakukan Central Connecticut State University di New Britain dengan sejumlah peneliti sosial menyebutkan jika Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara terkait minat baca. Kita dapat melihat, memang minat baca sastra tak lagi diminati oleh anak – anak terlebih siswa sekolah. Mereka justru lebih asyik menggunakan tehnologi modern seperti gadget tetapi kurang peduli pada buku untuk dibaca. Masalah lain yang cenderung terlihat dalam ketidak – seimbangan pengajaran sastra adalah kurangnya media pembelajaran. Karena, beberapa sekolah terpencil tidak dapat memperoleh buku sebagai media pengajaran sastra sehingga mengalami banyak penurunan pada pemahaman sastra itu sendiri. Sedangkan, sekolah lain yang mendapat buku dari pemerintah nyatanya juga tidak dapat menunjukkan ada perubahan baik dalam pengajaran sastra. Buku yang ada hanya dianggurkan dan tidak dipelajari karena beberapa menganggap sastra itu tidak perlu dipelajari terlalu mendalam.

Selain itu, hal yang menjadi kontrovesi lagi adalah anggapan bahwa sastra itu tidak penting. Beberapa dari orang memilih mendalami ilmu sains seperti kebanyakan orang, ketimbang memperdalam sastra. Bahkan, sekolah – sekolah sekarang lebih menekankan siswa untuk lebih memperdalam ilmu sains atau sebagainya dibanding ilmu sastra. Alhasil, kebanyakan siswa cenderung merasa terlalu terikat dan tidak bebas membuat beberapa diantara mereka kurang memiliki imajinasi dalam berkarya. Tak hanya itu, para orang tua juga menekankan siswa untuk memperdalam ilmu sains dibanding sastra. Memang, sebagian orang beranggapan ilmu sains itu lebih penting dibandingkan ilmu sastra. Lihat saja mereka yang memiliki nilai matematika bagus dalam bidang ilmu sains dengan mereka yang memiliki nilai bahasa Indonesia bagus dalam bidang ilmu sastra akan lebih dipuji dalam bidang sains. Itulah, orang – orang yang tidak paham makna sastra tersendiri sehingga selalu meremehkan hal tersebut. Padahal kenyataannya ilmu sastra sangat penting dan memiliki manfaat bagi siapapun.

Karena, pada hakikatnya semua ilmu itu juga penting. Kesuksesan seseorang tak sepenuhnya diukur oleh seberapa ilmu yang dipahami. Tapi seberapa kita menjadikan ilmu sebagai konsistensi diri kita. Tidak ada ilmu yang tidak penting, tergantung bagaimana kita akan menanggapinya. Jika kita bijak, maka dilakukan dengan menempatkan tujuan kita pada salah satu ilmu lalu mendalaminya. Maka apapun yang jadi minat dan tujuan seseorang sudah termasuk dukungan kita untuk menghargai hal tersebut. Kalau kita ingin anak – anak sukses di masa depan, sebaiknya apa yang terjalani sejak dini dikembangkan. Sederhana saja, dengan mengajarkan membaca ataupun menulis sebagai bentuk pengajaran sastra sejak dini. Mungkin, nanti jika mereka mulai mengenal lingkungan akan paham manfaat dari pengejaran sastra sejak dini tersebut.

Tidak buruk juga mengenalkan anak pada sastra dan memberi arahan untuk mendalaminya. Mungkin hanya beberapa tanggapan yang menyebutkan bahwa sastra tidak penting tapi jika kita berbicara kenyataan, lihat seluruh Indonesia ataupun dunia. Kebanyakan dari mereka yang sukses malah terlihat dari dunia sastra. Coba berfikir sejenak. Jika kita menekuni dunia sains misalnya, yang cenderung orang – orang banyak diminati sementara dunia sastra hanya segelintir sedikit orang saja. Lihat dan buka mata kalian, bahwa sastra memiliki peluang cukup besar untuk menunjang keberhasilan siapapun. Tinggal bagaimana kita akan memulai lalu menekuni setiap prosesnya. Untuk para guru sebaiknya tetap meningkatkan pengajaran sastra siswa agar mereka dapat merasakan manfaatnya, lalu menggunakan ilmu itu di saat yang tepat.

Sementara, untuk para orang tua jangan khawatir jika anak kita memilih terjundan menekuni di dunia sastra karena mungkin mereka juga memiliki cara tersendiri menentukan tujuan yang akan dijalani nantinya. Jangan pula selalu menganggap bahwa sastra tidak penting ataupun sebagainya. Tetapi tetap menjadikan sastra sebagai pintu gerbang kesuksesan bagi siapapun itu. Karena, jika kita berbicara tentang kesuksesan maka kamu akan menemukan banyak tokoh terkenal yang lahir dari dunia sastra. Misalnya tokoh Pramoedya Ananta Noer yang sukses di dunia sastra dengan menghasilkan lebih dari 50 buku dan telah diterjemahkan oleh lebih dari 41 bahasa asing di dunia. Bahkan, ia juga mendapat beberapa penghargaan salah satunya yaitu Freedom to Write Award dari PEN Amerika Center. Bisa dilihat bukan, bagaimana dunia sastra sangat indah dipelajari untuk siapapun. Karena pada hakikatnya, orang sukses dengan karya hebat bukan lahir dari mereka yang berilmu paling hebat sekalipun. Melainkan mereka yang menggunakan ilmu tanpa ragu menekuni lalu menjadikannya sebuah tujuan untuk menunjang keberhasilan.

 

 

 


 

No comments:

Post a Comment