Pengajaran Sastra Mendukung Siswa
Berkarya
Memasuki dunia
pendidikan saat ini, kita mungkin tidak akan lepas dari dunia kesustraan. Dalam
lingkup kehidupan, memang sastra telah diajarkan kepada kita sejak dini. Meski,
dalam pengajaran sastra saat masih dini belum mencangkup keseluruhan tetapi
lambat laun akan berkembang tanpa kita sadari sekalipun. Karena sastra itu
penting, itulah mengapa kita sejak dini harus diajarkan tentang dunia sastra.
Menurut Semi (1988 : 8) menyebutkan bahwa sastra adalah suatu bentuk dan hasil
pekerjaan seni kreatif yang objeknya manusia dan menggunakan bahasa sebagai
medium tersendiri. Berdasarkan pengertian tersebut, kita bisa tau bahwasannya
sastra juga memiliki elemen – elemen pendukung yang sering terdapat dalam
pengajaran sastra yaitu membaca sastra. Menurut KBBI, membaca adalah melihat
serta memahami isi dari apa yang tertulis dengan melisankan atau hanya dilihat
dari dalam hati.
Membaca sastra sering dikatakan sebagai metode paling bagus dalam
meningkatkan pengajaran sastra khususnya para siswa sekolah. Mengingat dalam
perkembangan pengetahuan siswa, mereka juga perlu membaca untuk menjadi lebih
kaya akan ilmu. Membaca itu membuat kita tau tentang segala sesuatu dan
memiliki pengetahuan luas. Membaca juga meningkatkan kemampuan kita memahami
segala hal dalam bidang apapun termasuk kehidupan sosial. Lewat pernyataan
Direktur Eksekutif LSI, Denny JA mengatakan jika pembaca sastra cenderung
terlibat dalam kelompok sosial sebesar 65,7 persen dan kelompok tidak membaca
sastra mencapai 48,5 persen saja. Sedangkan, beberapa pembaca sastra yang
berdema untuk lingkungan mencapai 86,5 persen lebih banyak dibanding mereka
yang tidak membaca sastra hanya sekitar 67,7 persen. Dari pernyataan singkat
itu kita dapat melihat seberapa pentingnya membaca dalam mendukung proses
pembelajaran siswa sekolah. Meski banyak dari beberapa mereka tidak paham betul
dan cenderung melupakan metode membaca sastra yang justru menjadi pendukung
pembentukan karakter pada siswa.
Dalam lingkup pengajaran sastra, membaca dimulai dari kelas paling
bawah dengan menggunakan media buku seperti dongeng, cerita rakyat, majalah
anak – anak dan sebagainya. Pengajar sastra kebanyakan juga menekuni untuk
menuntun siswa perlahan – lahan memahami cerita agar proses membaca berjalan
mengasyikkan. Meski tehnologi jaman sekarang sudah berkembang pesat tetap saja
dalam pengajaran sastra, buku termasuk hal yang paling penting untuk tidak
dilupakan. Hanya saja beberapa pengajar memilih jalan modernisasi dengan alasan
siswa lebih tertarik dan tidak bosan serta untuk meningkatkan daya baca pada
anak. Hal ini juga tidak disalahkan, tetapi kita juga perlu menjadikan
tehnologi modern sebagai pendamping pembelajaran dengan membiasakan siswa
mencari ilmu dari buku lalu menggunakan bantuan internet setelah tidak dapat
menemukan di buku.
Dalam pernyataan sebuah studi yang dilakukan lembaga PBB untuk anak
– anak, UNICEF, bersama para mitra termasuk Kementerian Komunikasi dan
Informatika dan Universitas Harvard Amerika Serikat menelusuri aktivitas online
dari sampel anak dan remaja menghasilkan sebanyak 98 mengaku tahu internet dan
79,5 persen diantaranya adalah pengguna internet. Namun, pengajar juga memiliki
peran untuk meningkatkan keminatan siswa pada buku melalui berbagai hal
walaupun kebanyakan menolak dan memilih internet yang dirasa lebih menarik.
Tapi lambat laun lewat adanya membaca buku akan menyadarkan seberapa pentingnya
sastra bagi kehidupan anak – anak nantinya. Menurut saya, hal itu juga termasuk
jalan paling bijak yang diambil dalam mengajarkan sastra bagi siswa.
Pernyataan penting di atas,
secara tidak langsung menjuru pada sistem pengajaran sastra dengan metode
membaca untuk dapat meningkatkan daya imajinasi siswa yang kemudian bisa mendukung
dalam berkarya. Menurut Key Pugh, PhD, presiden dan direktur penelitian Haskins
Laboratories kepala majalah Oprah mengungkapkan bahwa membaca dibanding
menonton tv atau mendengarkan radio memiliki pelatihan yang berbeda. Bagian
otak ketika membaca telah mengembangkan fungsi seperti kemampuan imajinasi,
bahasa dan pembelajaran asosiatif yang terhubung pada sirkuit saraf tertentu.
Dimana kita bisa menggunakan imajinasi tersebut untuk memulai berkarya. Lihat
saja mereka yang menjelajahi dunia imajinasi bisa menampilkan karya yang
sungguh menakjubkan. Sebagai contoh misalnya seorang tokoh terkenal, Albert
Einsten. Kisah nyata ini dengan imajinasinya bisa membuat rumus yang mampu
meluluh lantakan bagian dari negara Jepang. Sampai seorang Albert Einsten
mengatakan bahwa “imagination is more important than the knowledge”.
Jadi, memang membaca sastra ini memiliki peran penting karena
selain mendukung sistem pengajaran sastra tetapi memiliki segi manfaat yang
hebat bagi siswa. Membaca itu mudah, praktis, dan bisa kapanpun. Hanya
diperlukan kemauan dalam diri kita untuk tergerak dalam membaca. Mereka yang
membaca bisa berimajinasi membuat karya yang cerdas. Mereka yang membaca bisa
menulis lalu menciptakan tulisan inspiratif. Mereka yang membaca bisa
menjelajahi dunia dengan kemampuan bicara begitu handal. Semua dimulai hanya
dengan hal sederhana yaitu mengenal sastra lewat membaca. Itulah mengapa
pengajaran sastra perlu ditekankan pada kehidupan siswa untuk mendukung
perkembangannya menjadi seseorang yang hebat di masa depan. Ini hanya sedikit
pernyataan tentang pengajaran sastra lewat membaca, kalau kalian mendalam lagi
akan banyak manfaat yang ditemukan dari pengajaran sastra tersendiri.
Sayangnya, tak semua orang menyukai dunia sastra. Dalam pengajaran
sastra memang terdapat banyak kendala karena beberapa diantaranya memilih tidak
peduli dan cenderung meremehkan pada hal tersebut. Untuk pembaca sastra saja
menurun jumlah peminatnya di Indonesia. Menurut UNESCO, mengatakan bahwa minat
baca anak Indonesia hanya 0,01 persen. Dimana penjabaraannya dari 10. 000 ribu
anak bangsa, hanya satu orang yang senang membaca. Data lain dari sebuah survei
yang dilakukan Central Connecticut State University di New Britain dengan
sejumlah peneliti sosial menyebutkan jika Indonesia berada di peringkat 60 dari
61 negara terkait minat baca. Kita dapat melihat, memang minat baca sastra tak
lagi diminati oleh anak – anak terlebih siswa sekolah. Mereka justru lebih
asyik menggunakan tehnologi modern seperti gadget tetapi kurang peduli pada buku
untuk dibaca. Masalah lain yang cenderung terlihat dalam ketidak – seimbangan
pengajaran sastra adalah kurangnya media pembelajaran. Karena, beberapa sekolah
terpencil tidak dapat memperoleh buku sebagai media pengajaran sastra sehingga
mengalami banyak penurunan pada pemahaman sastra itu sendiri. Sedangkan,
sekolah lain yang mendapat buku dari pemerintah nyatanya juga tidak dapat
menunjukkan ada perubahan baik dalam pengajaran sastra. Buku yang ada hanya
dianggurkan dan tidak dipelajari karena beberapa menganggap sastra itu tidak
perlu dipelajari terlalu mendalam.
Selain itu, hal yang menjadi kontrovesi lagi adalah anggapan bahwa
sastra itu tidak penting. Beberapa dari orang memilih mendalami ilmu sains
seperti kebanyakan orang, ketimbang memperdalam sastra. Bahkan, sekolah –
sekolah sekarang lebih menekankan siswa untuk lebih memperdalam ilmu sains atau
sebagainya dibanding ilmu sastra. Alhasil, kebanyakan siswa cenderung merasa
terlalu terikat dan tidak bebas membuat beberapa diantara mereka kurang
memiliki imajinasi dalam berkarya. Tak hanya itu, para orang tua juga
menekankan siswa untuk memperdalam ilmu sains dibanding sastra. Memang,
sebagian orang beranggapan ilmu sains itu lebih penting dibandingkan ilmu
sastra. Lihat saja mereka yang memiliki nilai matematika bagus dalam bidang
ilmu sains dengan mereka yang memiliki nilai bahasa Indonesia bagus dalam
bidang ilmu sastra akan lebih dipuji dalam bidang sains. Itulah, orang – orang
yang tidak paham makna sastra tersendiri sehingga selalu meremehkan hal
tersebut. Padahal kenyataannya ilmu sastra sangat penting dan memiliki manfaat
bagi siapapun.
Karena, pada hakikatnya semua ilmu itu juga penting. Kesuksesan
seseorang tak sepenuhnya diukur oleh seberapa ilmu yang dipahami. Tapi seberapa
kita menjadikan ilmu sebagai konsistensi diri kita. Tidak ada ilmu yang tidak
penting, tergantung bagaimana kita akan menanggapinya. Jika kita bijak, maka
dilakukan dengan menempatkan tujuan kita pada salah satu ilmu lalu
mendalaminya. Maka apapun yang jadi minat dan tujuan seseorang sudah termasuk
dukungan kita untuk menghargai hal tersebut. Kalau kita ingin anak – anak
sukses di masa depan, sebaiknya apa yang terjalani sejak dini dikembangkan.
Sederhana saja, dengan mengajarkan membaca ataupun menulis sebagai bentuk
pengajaran sastra sejak dini. Mungkin, nanti jika mereka mulai mengenal
lingkungan akan paham manfaat dari pengejaran sastra sejak dini tersebut.
Tidak buruk juga mengenalkan anak pada sastra dan memberi arahan
untuk mendalaminya. Mungkin hanya beberapa tanggapan yang menyebutkan bahwa
sastra tidak penting tapi jika kita berbicara kenyataan, lihat seluruh
Indonesia ataupun dunia. Kebanyakan dari mereka yang sukses malah terlihat dari
dunia sastra. Coba berfikir sejenak. Jika kita menekuni dunia sains misalnya,
yang cenderung orang – orang banyak diminati sementara dunia sastra hanya
segelintir sedikit orang saja. Lihat dan buka mata kalian, bahwa sastra
memiliki peluang cukup besar untuk menunjang keberhasilan siapapun. Tinggal
bagaimana kita akan memulai lalu menekuni setiap prosesnya. Untuk para guru
sebaiknya tetap meningkatkan pengajaran sastra siswa agar mereka dapat
merasakan manfaatnya, lalu menggunakan ilmu itu di saat yang tepat.
Sementara, untuk para orang tua jangan khawatir jika anak kita
memilih terjundan menekuni di dunia sastra karena mungkin mereka juga memiliki
cara tersendiri menentukan tujuan yang akan dijalani nantinya. Jangan pula
selalu menganggap bahwa sastra tidak penting ataupun sebagainya. Tetapi tetap
menjadikan sastra sebagai pintu gerbang kesuksesan bagi siapapun itu. Karena,
jika kita berbicara tentang kesuksesan maka kamu akan menemukan banyak tokoh
terkenal yang lahir dari dunia sastra. Misalnya tokoh Pramoedya Ananta Noer
yang sukses di dunia sastra dengan menghasilkan lebih dari 50 buku dan telah
diterjemahkan oleh lebih dari 41 bahasa asing di dunia. Bahkan, ia juga
mendapat beberapa penghargaan salah satunya yaitu Freedom to Write Award dari PEN
Amerika Center. Bisa dilihat bukan, bagaimana dunia sastra sangat indah
dipelajari untuk siapapun. Karena pada hakikatnya, orang sukses dengan karya
hebat bukan lahir dari mereka yang berilmu paling hebat sekalipun. Melainkan
mereka yang menggunakan ilmu tanpa ragu menekuni lalu menjadikannya sebuah
tujuan untuk menunjang keberhasilan.

No comments:
Post a Comment