Friday, March 19, 2021

 

Ayo Peduli Kesehatan Gigi Hanya di Pondok Gigi

Kali ini saya akan membagikan pengalaman menarik berkunjung ke salah satu Klinik Gigi di Cipete bernama Pondok Gigi, yang beralamatkan di Jalan Antasari 20b, tepat sebelum belokan ke Kemang. Saya berkunjung untuk sekedar memeriksakan gigi dan melakukan beberapa perawatan yang dianjurkan oleh dokter. Betapa kagetnya, di dalam ruangan klinik terlihat sangat nyaman dengan desain unik dan modern layaknya cafe. Klinik Pondok Gigi tidak seperti rumah sakit atau klinik pada umumnya yang memiliki tampilan itu – itu saja. Namun, di Pondok Gigi sendiri telah didesain cukup menarik, salah satunya komik – komik legenda yang ditata secara unik sehingga menarik perhatian saya.

Selain karena fasilitas yang sangat nyaman, Klinik Pondok Gigi juga telah ditangani oleh dokter yang profesional yang telah berpengalaman dalam menangani permasalahan gigi. Tenang saja karena dokter disini merupakan dokter lulusan Universitas ternama di Indonesia dengan pengalaman lebih dari 5 tahun. Peralatan yang dipakai pun selalu dijaga kesterilannya sehingga terjamin aman. Perlu diingat bahwa Pondok Gigi menjamin dokter profesional yang telah diakui informasinya secara benar dan jelas dalam memberikan edukasi atau konsultasi bagi pasien.

Jadi, buat kalian yang masih kebingungan mencari dokter gigi terbaik, jangan lupa untuk percayakan kesehatan gigi, hanya di Pondok Gigi. Ayo ikut rawat gigi bersama Pondok Gigi!.

 

Pengajaran Sastra Mendukung Siswa Berkarya



            Memasuki dunia pendidikan saat ini, kita mungkin tidak akan lepas dari dunia kesustraan. Dalam lingkup kehidupan, memang sastra telah diajarkan kepada kita sejak dini. Meski, dalam pengajaran sastra saat masih dini belum mencangkup keseluruhan tetapi lambat laun akan berkembang tanpa kita sadari sekalipun. Karena sastra itu penting, itulah mengapa kita sejak dini harus diajarkan tentang dunia sastra. Menurut Semi (1988 : 8) menyebutkan bahwa sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya manusia dan menggunakan bahasa sebagai medium tersendiri. Berdasarkan pengertian tersebut, kita bisa tau bahwasannya sastra juga memiliki elemen – elemen pendukung yang sering terdapat dalam pengajaran sastra yaitu membaca sastra. Menurut KBBI, membaca adalah melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis dengan melisankan atau hanya dilihat dari dalam hati.

Membaca sastra sering dikatakan sebagai metode paling bagus dalam meningkatkan pengajaran sastra khususnya para siswa sekolah. Mengingat dalam perkembangan pengetahuan siswa, mereka juga perlu membaca untuk menjadi lebih kaya akan ilmu. Membaca itu membuat kita tau tentang segala sesuatu dan memiliki pengetahuan luas. Membaca juga meningkatkan kemampuan kita memahami segala hal dalam bidang apapun termasuk kehidupan sosial. Lewat pernyataan Direktur Eksekutif LSI, Denny JA mengatakan jika pembaca sastra cenderung terlibat dalam kelompok sosial sebesar 65,7 persen dan kelompok tidak membaca sastra mencapai 48,5 persen saja. Sedangkan, beberapa pembaca sastra yang berdema untuk lingkungan mencapai 86,5 persen lebih banyak dibanding mereka yang tidak membaca sastra hanya sekitar 67,7 persen. Dari pernyataan singkat itu kita dapat melihat seberapa pentingnya membaca dalam mendukung proses pembelajaran siswa sekolah. Meski banyak dari beberapa mereka tidak paham betul dan cenderung melupakan metode membaca sastra yang justru menjadi pendukung pembentukan karakter pada siswa.

Dalam lingkup pengajaran sastra, membaca dimulai dari kelas paling bawah dengan menggunakan media buku seperti dongeng, cerita rakyat, majalah anak – anak dan sebagainya. Pengajar sastra kebanyakan juga menekuni untuk menuntun siswa perlahan – lahan memahami cerita agar proses membaca berjalan mengasyikkan. Meski tehnologi jaman sekarang sudah berkembang pesat tetap saja dalam pengajaran sastra, buku termasuk hal yang paling penting untuk tidak dilupakan. Hanya saja beberapa pengajar memilih jalan modernisasi dengan alasan siswa lebih tertarik dan tidak bosan serta untuk meningkatkan daya baca pada anak. Hal ini juga tidak disalahkan, tetapi kita juga perlu menjadikan tehnologi modern sebagai pendamping pembelajaran dengan membiasakan siswa mencari ilmu dari buku lalu menggunakan bantuan internet setelah tidak dapat menemukan di buku.

Dalam pernyataan sebuah studi yang dilakukan lembaga PBB untuk anak – anak, UNICEF, bersama para mitra termasuk Kementerian Komunikasi dan Informatika dan Universitas Harvard Amerika Serikat menelusuri aktivitas online dari sampel anak dan remaja menghasilkan sebanyak 98 mengaku tahu internet dan 79,5 persen diantaranya adalah pengguna internet. Namun, pengajar juga memiliki peran untuk meningkatkan keminatan siswa pada buku melalui berbagai hal walaupun kebanyakan menolak dan memilih internet yang dirasa lebih menarik. Tapi lambat laun lewat adanya membaca buku akan menyadarkan seberapa pentingnya sastra bagi kehidupan anak – anak nantinya. Menurut saya, hal itu juga termasuk jalan paling bijak yang diambil dalam mengajarkan sastra bagi siswa.

 Pernyataan penting di atas, secara tidak langsung menjuru pada sistem pengajaran sastra dengan metode membaca untuk dapat meningkatkan daya imajinasi siswa yang kemudian bisa mendukung dalam berkarya. Menurut Key Pugh, PhD, presiden dan direktur penelitian Haskins Laboratories kepala majalah Oprah mengungkapkan bahwa membaca dibanding menonton tv atau mendengarkan radio memiliki pelatihan yang berbeda. Bagian otak ketika membaca telah mengembangkan fungsi seperti kemampuan imajinasi, bahasa dan pembelajaran asosiatif yang terhubung pada sirkuit saraf tertentu. Dimana kita bisa menggunakan imajinasi tersebut untuk memulai berkarya. Lihat saja mereka yang menjelajahi dunia imajinasi bisa menampilkan karya yang sungguh menakjubkan. Sebagai contoh misalnya seorang tokoh terkenal, Albert Einsten. Kisah nyata ini dengan imajinasinya bisa membuat rumus yang mampu meluluh lantakan bagian dari negara Jepang. Sampai seorang Albert Einsten mengatakan bahwa “imagination is more important than the knowledge”.

Jadi, memang membaca sastra ini memiliki peran penting karena selain mendukung sistem pengajaran sastra tetapi memiliki segi manfaat yang hebat bagi siswa. Membaca itu mudah, praktis, dan bisa kapanpun. Hanya diperlukan kemauan dalam diri kita untuk tergerak dalam membaca. Mereka yang membaca bisa berimajinasi membuat karya yang cerdas. Mereka yang membaca bisa menulis lalu menciptakan tulisan inspiratif. Mereka yang membaca bisa menjelajahi dunia dengan kemampuan bicara begitu handal. Semua dimulai hanya dengan hal sederhana yaitu mengenal sastra lewat membaca. Itulah mengapa pengajaran sastra perlu ditekankan pada kehidupan siswa untuk mendukung perkembangannya menjadi seseorang yang hebat di masa depan. Ini hanya sedikit pernyataan tentang pengajaran sastra lewat membaca, kalau kalian mendalam lagi akan banyak manfaat yang ditemukan dari pengajaran sastra tersendiri.

Sayangnya, tak semua orang menyukai dunia sastra. Dalam pengajaran sastra memang terdapat banyak kendala karena beberapa diantaranya memilih tidak peduli dan cenderung meremehkan pada hal tersebut. Untuk pembaca sastra saja menurun jumlah peminatnya di Indonesia. Menurut UNESCO, mengatakan bahwa minat baca anak Indonesia hanya 0,01 persen. Dimana penjabaraannya dari 10. 000 ribu anak bangsa, hanya satu orang yang senang membaca. Data lain dari sebuah survei yang dilakukan Central Connecticut State University di New Britain dengan sejumlah peneliti sosial menyebutkan jika Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara terkait minat baca. Kita dapat melihat, memang minat baca sastra tak lagi diminati oleh anak – anak terlebih siswa sekolah. Mereka justru lebih asyik menggunakan tehnologi modern seperti gadget tetapi kurang peduli pada buku untuk dibaca. Masalah lain yang cenderung terlihat dalam ketidak – seimbangan pengajaran sastra adalah kurangnya media pembelajaran. Karena, beberapa sekolah terpencil tidak dapat memperoleh buku sebagai media pengajaran sastra sehingga mengalami banyak penurunan pada pemahaman sastra itu sendiri. Sedangkan, sekolah lain yang mendapat buku dari pemerintah nyatanya juga tidak dapat menunjukkan ada perubahan baik dalam pengajaran sastra. Buku yang ada hanya dianggurkan dan tidak dipelajari karena beberapa menganggap sastra itu tidak perlu dipelajari terlalu mendalam.

Selain itu, hal yang menjadi kontrovesi lagi adalah anggapan bahwa sastra itu tidak penting. Beberapa dari orang memilih mendalami ilmu sains seperti kebanyakan orang, ketimbang memperdalam sastra. Bahkan, sekolah – sekolah sekarang lebih menekankan siswa untuk lebih memperdalam ilmu sains atau sebagainya dibanding ilmu sastra. Alhasil, kebanyakan siswa cenderung merasa terlalu terikat dan tidak bebas membuat beberapa diantara mereka kurang memiliki imajinasi dalam berkarya. Tak hanya itu, para orang tua juga menekankan siswa untuk memperdalam ilmu sains dibanding sastra. Memang, sebagian orang beranggapan ilmu sains itu lebih penting dibandingkan ilmu sastra. Lihat saja mereka yang memiliki nilai matematika bagus dalam bidang ilmu sains dengan mereka yang memiliki nilai bahasa Indonesia bagus dalam bidang ilmu sastra akan lebih dipuji dalam bidang sains. Itulah, orang – orang yang tidak paham makna sastra tersendiri sehingga selalu meremehkan hal tersebut. Padahal kenyataannya ilmu sastra sangat penting dan memiliki manfaat bagi siapapun.

Karena, pada hakikatnya semua ilmu itu juga penting. Kesuksesan seseorang tak sepenuhnya diukur oleh seberapa ilmu yang dipahami. Tapi seberapa kita menjadikan ilmu sebagai konsistensi diri kita. Tidak ada ilmu yang tidak penting, tergantung bagaimana kita akan menanggapinya. Jika kita bijak, maka dilakukan dengan menempatkan tujuan kita pada salah satu ilmu lalu mendalaminya. Maka apapun yang jadi minat dan tujuan seseorang sudah termasuk dukungan kita untuk menghargai hal tersebut. Kalau kita ingin anak – anak sukses di masa depan, sebaiknya apa yang terjalani sejak dini dikembangkan. Sederhana saja, dengan mengajarkan membaca ataupun menulis sebagai bentuk pengajaran sastra sejak dini. Mungkin, nanti jika mereka mulai mengenal lingkungan akan paham manfaat dari pengejaran sastra sejak dini tersebut.

Tidak buruk juga mengenalkan anak pada sastra dan memberi arahan untuk mendalaminya. Mungkin hanya beberapa tanggapan yang menyebutkan bahwa sastra tidak penting tapi jika kita berbicara kenyataan, lihat seluruh Indonesia ataupun dunia. Kebanyakan dari mereka yang sukses malah terlihat dari dunia sastra. Coba berfikir sejenak. Jika kita menekuni dunia sains misalnya, yang cenderung orang – orang banyak diminati sementara dunia sastra hanya segelintir sedikit orang saja. Lihat dan buka mata kalian, bahwa sastra memiliki peluang cukup besar untuk menunjang keberhasilan siapapun. Tinggal bagaimana kita akan memulai lalu menekuni setiap prosesnya. Untuk para guru sebaiknya tetap meningkatkan pengajaran sastra siswa agar mereka dapat merasakan manfaatnya, lalu menggunakan ilmu itu di saat yang tepat.

Sementara, untuk para orang tua jangan khawatir jika anak kita memilih terjundan menekuni di dunia sastra karena mungkin mereka juga memiliki cara tersendiri menentukan tujuan yang akan dijalani nantinya. Jangan pula selalu menganggap bahwa sastra tidak penting ataupun sebagainya. Tetapi tetap menjadikan sastra sebagai pintu gerbang kesuksesan bagi siapapun itu. Karena, jika kita berbicara tentang kesuksesan maka kamu akan menemukan banyak tokoh terkenal yang lahir dari dunia sastra. Misalnya tokoh Pramoedya Ananta Noer yang sukses di dunia sastra dengan menghasilkan lebih dari 50 buku dan telah diterjemahkan oleh lebih dari 41 bahasa asing di dunia. Bahkan, ia juga mendapat beberapa penghargaan salah satunya yaitu Freedom to Write Award dari PEN Amerika Center. Bisa dilihat bukan, bagaimana dunia sastra sangat indah dipelajari untuk siapapun. Karena pada hakikatnya, orang sukses dengan karya hebat bukan lahir dari mereka yang berilmu paling hebat sekalipun. Melainkan mereka yang menggunakan ilmu tanpa ragu menekuni lalu menjadikannya sebuah tujuan untuk menunjang keberhasilan.

 

 

 


 

Sunday, June 24, 2018

Aksara Senja





Ku duduk termenung di tepi muara

Sesekali merasakan hembusan angin yang menyeruak tanpa jeda

Lalu menikmati kabut jingga penuh pesona di batas cakrawala

Membawa kenangan kita satu – persatu yang lenyap tanpa tersisa



Aku ingat, dulu kita sering mengadu pada senja berdua

Berbagi tawa dan bahagia bersama

Membiarkan lelah tumpah pada dekapan cinta

Lalu saling menepi rindu yang mengangkasa



Membuatku merasakan hati kita telah utuh menyatu

Hingga aku menjadikanmu beribu – ribu alasan senyum indahku

Merajut setiap benih cinta dalam kalbu

Lalu dengan rakus meringkus seluruh hatiku tanpa sedikitpun meragu



Sampai akhirnya aku tertelungkup sadar yang mengakar

Hatinya seolah – olah ingin menghindar

Meninggalku kasar tanpa sebuah kabar

Membuat hatiku rasanya mati tertampar



Dan sekarang aku menetap disini sendiri

Menikmati kenangan berbalut tangis begitu tragis

Berkecamuk pada keinginan yang menyuruhnya kembali

Meski kini aku hanya bisa menjadikanmu alasan setiap bait rindu tertulis



Karena menulis adalah caraku menangis

Senja adalah ukiran kenangan yang simbolis

Bait kata adalah untaian rasa penuh luka

Dan rindu adalah air matanya



Waktu pun berlalu

Hingga takdir menyadarkanku  

Kita tak kan pernah bisa menyatu

Meski seperti apapun jalan yang kan kita tuju



Tapi percayalah, aku akan selalu mengingatmu dalam senja dan tentang sebuah tulisan

Terimakasih telah menjadikanku wanita kuat akan tantangan kehidupan

Terimakasih karena pernah menjadikanku wanita teramat istimewa

Walau akhirnya kuiklaskan kau bahagia dengannya

                       

                                                             
Atas nama aksara senja

Kutitipkan satu nama rindu di langit yang berbeda





Sunday, June 10, 2018

Diskusi Singkat Tentang NKRI


Perbedaan adalah kunci kuat persatuan. Dimana perbedaan menjadikan setiap rakyat bangsa untuk saling mengerti dan memahami keadaan, yang suatu saat bisa mengingatkan kita pada arti sebuah kehidupan.

Tak banyak yang mengerti, perbedaan ada semata – mata untuk menguatkan hati dan diri supaya kita tetap menghargai dan mensyukuri apa yang Tuhan beri. Lalu tidak menggunakan perbedaan untuk di hakimi sendiri ataupun alasan suatu masalah terjadi.

Namun, kenyataannya perbedaan seringkali menjadi perpecahan yang berujung kehancuran. Sebagian dari mereka mengatakan jika perbedaan itu harus dibasmi dan menyetarakan apa yang nyata dijalani.

Bahkan, mereka ingin satu kesamaan diantara mereka menyatu menjadi paling nomer satu dan tak lagi mengenal perbedaan sebagai kunci penyatu. Mereka seolah – olah selalu menunjukkan dirinya benar, paling kuat, dan tak jarang memiliki niatan hati yang tidak mau kalah pada siapapun itu.

Aku ingat, waktu itu berita dihebohkan kasus pemberontakan antarsuku hanya karena suatu perbedaan yang seharusnya wajar terjadi. Saat itu permusuhan seakan – akan bergejolak tinggi dan perpecahan sering terjadi yang mengancam persatuan NKRI. Pelaku pun dengan lihai mempermainkan kasus yang menjerat dirinya, bahkan polisi dan TNI terkadang kewalahan dengan jumlah mereka yang menjalar ke seluruh penjuru Negeri.

Tak berheti sampai disitu, kasus lain tentang tentang masalah kepercayaan agama setiap orang yang menuai banyak kontrovensi. Memang, kepercayaan agama itu hakikatnya kuat pada setiap hati manusia yang memiliki.

Dimana kepercayaan agama selalu mencirikan perbedaan karena hati manusia tak mungkin sama dalam hal menyangkut keimanan. Kadang, perbedaan inilah yang menimbulkan perkataan bahwa setiap agama tidak dapat rukun dalam keseharian.

Tak jarang, sering terdapat oknum – oknum yang mungkin dalam pikir mereka membela agamanya tapi dalam kenyataan justru menginginkan posisi paling tinggi, sementara menganggap yang lain rendah dan alhasil pertengkaran selalu menjadi jalan setiap pikiran. Sayangnya, mereka terlalu egois sampai lupa bangsa mereka sendiri terancam keutuhannya hanya karena suatu perbedaan yang dipertetangkan.  

Dari sedikit kasus di atas, terkadang kita lupa mempelajari masalah kecil yang ada pada negara ini dan cenderung selalu memikirkan langkah untuk maju. Padahal jika dipikir, untuk apa suatu negara maju jika rakyatnya sendiri masih ingin memecah belah persatuan dengan berbagai macam perilaku.

Konteks disini bukan berarti menolak kemajuan negara, tapi hanya saja kita perlu mengerti masalah kecil yang juga dapat berdampak besar dan seharusnya mendapat perhatian dari semua golongan dengan sikap solidaritas. Ibarat kamu membangun sebuah menara, padahal disitu kamu tau kalau ada bagian bawah menara yang rusak, tapi kamu malah membiarkannya hanya karena ingin cepat mencapai puncak paling atas.

Bukankah begitu pemikiran orang jaman sekarang? Mengesampingkan masalah kecil, seakan – akan semua sudah ada yang mengurusi. Padahal justru bantuan tangan dari rakyat sangat dibutuhkan agar masalah teratasi. Jangan selalu beranggapan segala bentuk masalah kecil sudah ada yang menangani, lalu kita acuh saja seolah – olah menjadi rakyat biasa yang tak pernah tau dan mengerti seperti apa keadaan bangsa ini.

Saya herannya lagi, pada mereka yang terlalu sibuk menilai pemerintahan atas dasar apa yang menjadi tolak keinginan rakyat untuk mendapatkan kehidupan makmur tak juga bisa dirasakan sampai kini. Tak jarang muncul hinaan dan cenderung menyalahkan sejumlah pejabat karena dirasa kurang mewujudkan janji.

Padahal mereka tak tau menjadi pejabat itu tidak mudah seperti apa yang orang pahami. Coba saja kamu di posisi pejabat saat ini. Apakah kamu mampu dengan sekejap mewujudkan negara yang maju, makmur, sejahtera, rukun, ataupun damai? Tidak. Bahkan sebuah biji butuh waktu bertahun – tahun untuk berkembang menjadi pohon besar dan tinggi.

Bukan tidak mungkin kita tak dapat mewujudkan negara yang sesuai dengan tujuan, lalu menunggu sampai bertahun – tahun untuk bisa terwujud. Kadang, seseorang tak perlu menghancurkan apa yang sudah dirawat sejak awal agar sesuatu yang diinginkan terwujud.

Karena, kita juga perlu sadar bahwasannya dulu kita hanyalah sebuah bangsa yang seringkali dijajah. Lalu menjadi negara bersatu atas jerih payah dan pengorbanan para pahlawan yang gagah.

Ayolah sama – sama kita mewujudkan Bangsa Indonesia ini dengan rakyatnya yang tak hanya berfikir untuk maju tetapi juga bisa menjaga keutuhan yang memang sudah menjadi tujuan awal negara dirikan. Tak perlu saling menyalahkan.

Tidak ada yang benar – benar salah pada suatu bangsa, yang ada hanya mereka yang kurang peduli dan selalu ingin mencari kepuasan diri. Butuh kekuatan persatuan untuk bisa mewujudkan bangsa yang selaras dengan tujuan, tentunya dengan kesadaran warga negara itu sendiri.

Saling gotong – royong bersama mewujudkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang diinginkan masyarakat dahulu, kini, maupun nanti. Ibarat suatu menara tadi, tak mungkin dibangun oleh tangan arsitektur itu sendiri. Tapi membutuhkan beberapa orang yang membantunya mewujudkan sampai puncak teratas menara lalu dengan fokus pada rancangan yang telah disepakati.

Seperti halnya bangsa kita. Perlu adanya kerjasama antar semua rakyat bangsa. Yang tua jangan selalu menyalahkan dan memaki yang muda karena terkadang mereka tak perlu dimarahi untuk suatu aksi anarki. Tetapi mengajarinya berperilaku baik sesuai dengan ciri khas bangsa kita ini.

Lalu yang muda jangan selalu menyalahkan yang tua hanya karena mereka terkadang payah dalam mengurusi pemerintahan, tetapi kalian sendirilah yang seharusnya belajar dari kesalahan itu lalu berusaha memperbaiki masa depan nanti menjadi lebih baik lagi. Karena, pada hakikatnya kemerdekaan lahir atas perjuangan para orang tua untuk anak cucu mereka saat ini maupun hari nanti.

Kemudian tentang suku dan agama yang beragam di negeri ini. Jangan beraggapan bahwa perbedaan menjadi sebuah kehancuran tersendiri. Tapi justru hal tersebut agar kita dapat memahami dan saling mengerti.

Andaikan suatu negara hanya dihuni oleh satu suku dan satu agama, tentunya terasa membosankan. Berbeda dengan negara dengan beragam suku, kita dapat mendapat banyak pengetahuan karena ternyata dengan mudahnya mengetahui bahkan mempelajari adat masing – masing yang menarik untuk dijelajahi.

Ingin sekali suatu hari nanti, yang tua bisa menularkan hal yang baik pada yang muda. Yang muda menghormati dan menghargai yang tua. Lalu seluruh suku dan agama bersatu dengan semangat, mengibarkan bendera merah putih pada suatu perkumpulan tanpa memandang perbedaan yang ada.

Dan satu poin terakhir tentang konteks ini adalah fokus pada tujuan. Masih sama seperti menara tadi, untuk dapat membangun puncak paling tinggi perlu fokus pada suatu rancangan. Sama halnya dengan negara kita agar menjadi negara yang hebat itu dengan tetap melangkah dan fokus pada tujuan awal dibentuk kemerdekaan.

Karena pada hakikatnya, masalah yang ada pada suatu negara hanya untuk menguatkan. Agar suatu saat nanti kita bisa bangkit dari keterpurukan dan menjadikannya hikmah dan pelajaran. Lalu, dapat mengenang bangsa Indonesia ini sebagai bangsa yang selalu kita jungjung tinggi dan hormati dalam keseharian.

Kini dan nanti....

Harap memahami.
Sebelum mengomentari
“Berhentilah menjadi kapal tanpa seorang nahkoda. Apalagi tanpa arah tujuan yang jelas. Kita dihidupkan untuk suatu tujuan yang besar. Bukan lagi sesuatu hal yang  menyesatkan".